Tampilkan postingan dengan label Pelabuhan Tanjung Priok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pelabuhan Tanjung Priok. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Juli 2026

Pengurus FORWAMI Sambut Kunjungan Kerja Humas Pelindo Regional 2 Tanjung Priok




TANJUNG PRIOK - Pada Rabu kemarin (15 Juli 2026), sekitar Jam 14.00 Wib, Pengurus Forum Wartawan Maritim Indonesia (FORWAMI) menerima kunjungan kerja Humas Pelindo Regional 2 Tanjung Priok, yakni Ibu Made Harmika, didampingi staf Humas (Komersil).


Agenda kunjungan dalam rangka terus memperkuat sinergi kemitraan antara Pelindo Regional 2 Tanjung Priok dengan segenap Pengurus dan Wartawan Anggota FORWAMI.


Penyambutan tersebut, langsung oleh Bang Hoddy S. selaku Ketua Forwami, didampingi Saiful Anam (Sekjen), Risyaji (Bendahara) dan Kalaos (Humas).


"Terima Kasih kepada Bu Made dan Tim, sudah menyediakan waktunya untuk berkunjung ke Press Room Forwami," Ungkap Hoddy S.


(Tim Komunikasi Forwami).


Press Release IPC TPK edisi Juni 2026 (Kerjasama)



Melalui Bowling Fun Games 2026, IPC TPK dan Mitra PBM Perkuat Koordinasi
dan Kolaborasi Dorong Operational Excellence
Jakarta, 30 Juni 2026 – Dalam rangka mempererat tali silaturahmi serta meningkatkan sinergi dalam ekosistem pelabuhan, PT IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) sukses menyelenggarakan acara olahraga bersama bertajuk "Bowling Fun Games IPC TPK & Partners 2026". Kegiatan yang berlangsung di Artha Gading Bowling Center. Gelaran ini dihadiri langsung oleh jajaran direksi dan manajemen IPC TPK beserta para pimpinan dan perwakilan dari berbagai Mitra Perusahaan Bongkar Muat (PBM). Acara ini dirancang sebagai wadah apresiasi sekaligus momentum untuk memperkuat kolaborasi yang telah terjalin erat demi mendukung kelancaran arus logistik nasional.
 
Kegiatan ini diikuti secara aktif oleh Yanuar Evyanto selaku Plt. Direktur Komersial & Pengembangan Bisnis serta Ahmad Mimbar selaku Direktur Operasi dan Teknik, bersama jajaran mitra strategis mulai dari PT Olah Jasa Andal, PT Tangguh Samudera Jaya, PT Mustika Alam Lestari, PT Mitra Sentosa Abadi, PT Temas Port, PT Dwipahasta Utamaduta, PT Adipurusa, hingga PT Celebes Maritime Service. Senior Manager Sekretariat Perusahaan, Daniel Setiawan, mengungkapkan, "Mitra PBM merupakan bagian penting dalam ekosistem layanan IPC TPK. Melalui Bowling Fun Game 2026, kami ingin mempererat hubungan yang telah terjalin, membangun komunikasi yang semakin terbuka, serta memperkuat koordinasi dan kolaborasi operasional dapat berjalan lebih efektif dalam menghadirkan layanan terminal yang unggul."
 
Di tengah tantangan industri logistik yang semakin dinamis, komunikasi yang terbuka dan hubungan yang harmonis antar-stakeholder menjadi kunci utama. Melalui suasana kompetisi yang sehat namun penuh keakraban di area bowling, diharapkan hambatan komunikasi operasional di lapangan dapat diminimalisir sehingga proses kerja bersama menjadi lebih fleksibel dan responsif.
 
Sepanjang acara, para peserta menunjukkan antusiasme yang tinggi dalam memperebutkan gelar juara di beberapa kategori permainan. Lebih dari sekadar mencari pemenang, esensi utama dari berkumpulnya para pelaku industri ini adalah untuk menyamakan frekuensi dan memperbarui semangat kerja sama. Dengan visi yang sejalan, seluruh mitra berkomitmen untuk terus mendorong inovasi layanan demi mencapai efisiensi operasional dan standar operational excellence di setiap terminal kelolaan IPC TPK.
 
Acara kemudian ditutup dengan sesi ramah tamah serta penyerahan apresiasi kepada para pemenang turnamen.
 
"Kami optimis bahwa kebersamaan yang terjalin erat dalam Bowling Fun Games 2026 ini akan membawa dampak nyata pada peningkatan kualitas pelayanan yang lebih modern, efisien, dan berdaya saing tinggi di masa depan." tutup Daniel.
Ekspor Lampung Bergeliat,
Arus Peti Kemas IPC TPK Panjang Tembus 50 Ribu TEUs
Bandar Lampung, 25 Juni 2026 – Arus peti kemas di Terminal Petikemas Panjang menunjukkan tren positif hingga Mei 2026. PT IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) mencatat pertumbuhan throughput sebesar 7,40 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
 
Sepanjang Januari hingga Mei 2026, volume peti kemas tercatat mencapai 50.287 TEUs, meningkat dari 46.824 TEUs pada periode yang sama tahun 2025. Kenaikan tersebut mencerminkan meningkatnya aktivitas logistik dan perdagangan yang dilayani melalui Terminal Petikemas Panjang.
 
Senior Manager Sekretariat Perusahaan IPC TPK, Daniel Setiawan, mengatakan bahwa capaian tersebut menunjukkan aktivitas arus barang yang terus tumbuh seiring meningkatnya kebutuhan distribusi dan perdagangan di wilayah Lampung dan sekitarnya.
 
“Pertumbuhan throughput di Area Panjang yang berada di atas rata-rata pertumbuhan IPC TPK secara nasional menunjukkan peran strategis terminal dalam mendukung kelancaran arus logistik dan perdagangan di wilayah Lampung. Kami akan terus menjaga keandalan layanan untuk memastikan kebutuhan pengguna jasa dapat terpenuhi secara optimal,” ujarnya.
 
Peningkatan throughput terutama ditopang oleh pertumbuhan ekspor sejumlah komoditas unggulan. Komoditas tapioca starch tercatat tumbuh 267,37 persen, diikuti frozen shrimp sebesar 28,90 persen, nanas sebesar 22,93 persen, serta refined glycerine sebesar 21,90 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
 
Selain itu, arus peti kemas domestik maupun internasional juga menunjukkan pertumbuhan yang positif. Hingga Mei 2026, throughput domestik tercatat mencapai 28.163 TEUs atau tumbuh 10,04 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, throughput internasional mencapai 22.124 TEUs atau meningkat 4,21 persen secara tahunan.
 
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung turut menunjukkan tren perdagangan yang positif. Pada April 2026, nilai ekspor Provinsi Lampung mencapai US$504,59 juta atau meningkat 43,29 persen dibandingkan April 2025. Sementara itu, nilai impor tercatat sebesar US$172,40 juta atau naik 51,56 persen secara tahunan. Pertumbuhan aktivitas perdagangan tersebut turut mendorong peningkatan arus logistik dan pergerakan peti kemas yang dilayani melalui Terminal Petikemas Panjang.
 
Kinerja positif Area Panjang turut mendukung pertumbuhan trafik peti kemas IPC TPK secara nasional. Hingga Mei 2026, IPC TPK membukukan throughput sebesar 1,49 juta TEUs atau meningkat 6,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dengan pertumbuhan sebesar 7,4 persen, Area Panjang menjadi area dengan pertumbuhan tertinggi kedua di lingkungan IPC TPK hingga Mei 2026.
 
Sebagai terminal peti kemas utama di Provinsi Lampung, IPC TPK Panjang terus memperkuat layanan operasional melalui peningkatan koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari perusahaan pelayaran hingga pengguna jasa. Langkah ini dilakukan untuk menjaga stabilitas layanan di tengah meningkatnya aktivitas logistik dan perdagangan.
 
Dengan tren positif tersebut, IPC TPK Panjang semakin memperkuat perannya sebagai gerbang logistik strategis yang mendukung kelancaran arus perdagangan domestik maupun internasional di Provinsi Lampung.


Sasar Generasi Muda Jakarta Utara, IPC TPK Kenalkan Industri Petikemas
dan Salurkan Fasilitas Kebersihan
Jakarta, 23 Juni 2026 – IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) menyelenggarakan program tanggung jawab sosial perusahaan bertajuk "Bakti IPC TPK" dengan mengusung tema “Sehari Mengenal Dunia Petikemas Bareng IPC TPK”. Kegiatan edukasi dan aksi peduli ini dilaksanakan di SMA Negeri 13 Jakarta. Kegiatan ini diinisiasi sebagai jembatan sinergi antara perusahaan dengan masyarakat sekitar di luar lingkungan operasional pelabuhan, sekaligus sebagai upaya memperkenalkan industri logistik dan terminal peti kemas kepada generasi muda, khususnya para siswa-siswi di wilayah Jakarta Utara.
 
Direktur Keuangan, SDM & Manajemen Risiko IPC TPK, Yanuar Evyanto, menyampaikan, “Melalui program Bakti IPC TPK, kami ingin membuka wawasan para siswa/siswi mengenai pentingnya peran pelabuhan dan rantai pasok dalam mendukung perekonomian nasional. Kami juga sangat mendukung kegiatan pengelolaan sampah di lingkungan sekolah karena selaras dengan prinsip ESG yang diterapkan di IPC TPK” ujarnya.
 
Rangkaian agenda dalam "Bakti IPC TPK Peduli & Berbagi" ini dikemas secara interaktif dan diawali dengan sambutan Direksi IPC TPK, yang dilanjutkan dengan pemaparan materi edukatif mengenai bisnis pengelolaan terminal peti kemas. Sebagai bentuk kontribusi nyata dalam mendukung pengelolaan sampah di lingkungan sekolah, IPC TPK juga menyerahkan bantuan berupa fasilitas tempat sampah dan mesin pencacah sampah kepada pihak sekolah. Guna mencairkan suasana dan memicu antusiasme peserta, acara juga diselingi dengan sesi kuis dan games edukatif yang menyediakan berbagai hadiah menarik bagi para siswa.
 
Memasuki puncak acara, keceriaan para siswa semakin memuncak saat dibukanya sesi Coaching Clinic Futsal. Agenda olahraga ini dipandu langsung oleh pekerja IPC TPK yang juga merupakan mantan atlet Futsal Timnas Indonesia, Randy Satria. Melalui sesi kepelatihan khusus ini, para siswa tidak hanya diajarkan teknik-teknik dasar bermain futsal yang benar, tetapi juga ditanamkan nilai-nilai penting mengenai sportivitas, daya juang yang tinggi, kekompakan, serta kerja sama tim yang kuat yang menjadi landasan utama budaya kerja profesional di IPC TPK. Kegiatan ditutup dengan gerakan bersih-bersih lingkungan sekolah bersama.
 
“Harapannya, IPC TPK akan terus konsisten menghadirkan program-program kemasyarakatan yang memberikan dampak positif jangka panjang, baik dalam mendukung pilar lingkungan melalui pengelolaan sampah mandiri di sekolah, maupun pilar pendidikan dan kepemudaan melalui sinergi edukasi profesional serta pengembangan bakat olahraga.” tutup Yanuar.


IPC TPK Jambi Dukung Ekspor 19,2 Ton Kopi Kerinci ke Mesir
Jambi, 17 Juni 2026 – IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) Area Jambi mendukung kelancaran ekspor kopi robusta asal Kerinci ke Mesir melalui layanan terminal petikemas yang andal dan terintegrasi di Terminal Petikemas Talang Duku. Pengiriman sebanyak 19,2 ton green bean kopi robusta ini menjadi bagian dari upaya memperluas akses pasar internasional bagi komoditas unggulan Provinsi Jambi sekaligus meningkatkan daya saing produk lokal di pasar global.
 
Pengiriman kopi robusta Kerinci ke Mesir berlangsung di tengah tren positif kinerja ekspor komoditas perkebunan Provinsi Jambi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi, nilai ekspor kelompok komoditas kopi, teh, dan rempah-rempah meningkat dari US$1,12 juta pada Maret 2026 menjadi US$2 juta pada April 2026. Pertumbuhan tersebut mencerminkan semakin terbukanya peluang pasar internasional bagi komoditas unggulan daerah sekaligus menunjukkan daya saing produk asal Jambi yang terus meningkat di pasar global.
 
Kegiatan pelepasan ekspor turut dihadiri oleh perwakilan Bea Cukai Jambi, Badan Pengurus Daerah Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPD HIPMI) Provinsi Jambi, Badan Pengurus Cabang (BPC) HIPMI Kota Sungai Penuh, serta sejumlah pemangku kepentingan terkait. Kehadiran berbagai pihak tersebut menjadi wujud kolaborasi dalam mendorong komoditas unggulan Jambi agar semakin kompetitif dan mampu menjangkau pasar internasional yang lebih luas.
 
Terminal Head IPC TPK Area Jambi, Wedhar Tani Aji S, mengatakan bahwa pengiriman kopi robusta Kerinci ke Mesir menjadi salah satu bukti bahwa komoditas unggulan daerah memiliki peluang besar untuk berkembang di pasar global apabila didukung oleh ekosistem logistik yang terintegrasi. "Pengiriman kopi robusta Kerinci ke Mesir menjadi bukti bahwa komoditas unggulan daerah memiliki daya saing di pasar global. Kami memastikan kesiapan layanan terminal dan logistik agar proses ekspor dapat berjalan lancar, efisien, dan tepat waktu sehingga mendukung pertumbuhan perdagangan internasional dari Jambi," ujar Wedhar.
 
Ia menambahkan bahwa Jambi memiliki beragam komoditas unggulan yang berpotensi untuk terus dikembangkan di pasar ekspor, mulai dari kopi, kayu manis, pinang, karet, hingga berbagai produk turunan perkebunan lainnya. Kehadiran layanan logistik yang efisien diharapkan dapat menjadi penghubung bagi produk-produk lokal untuk menjangkau pasar internasional secara lebih luas.
 
"Pada prinsipnya, pelabuhan siap mendukung pertumbuhan ekspor komoditas unggulan asal Jambi. Tidak hanya kopi, masih banyak potensi daerah yang dapat terus dikembangkan bersama. Tentunya hal ini membutuhkan kolaborasi dan sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, komunitas bisnis, serta seluruh pemangku kepentingan agar potensi tersebut dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi perekonomian daerah," tambahnya.
 
Sebagai salah satu gerbang logistik utama di Provinsi Jambi, Terminal Petikemas Talang Duku terus berperan dalam mendukung kelancaran arus barang ekspor dan impor. Melalui layanan kepelabuhanan dan logistik yang terintegrasi, IPC TPK Area Jambi senantiasa meningkatkan kualitas layanan dan efisiensi operasional guna memberikan kemudahan akses pasar bagi pelaku usaha serta memperkuat peran Pelabuhan Talang Duku sebagai gerbang ekspor komoditas unggulan Jambi ke berbagai negara tujuan.

Trafik Petikemas IPC TPK Tembus 1,49 Juta TEUs Sepanjang Januari-Mei 2026
Jakarta, 15 Juni 2026 – IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) mencatat pertumbuhan arus petikemas sebesar 6,1 persen secara kumulatif hingga Mei 2026 dengan total throughput mencapai 1.492.721 TEUs, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 1.406.875 TEUs.
 
Sementara itu, pada Mei 2026 saja, IPC TPK membukukan pertumbuhan operasional sebesar 4 persen dengan total arus petikemas mencapai 333.146 TEUs dibandingkan Mei 2025 sebesar 320.109 TEUs. Peningkatan ini sejalan dengan meningkatnya aktivitas distribusi barang dan perdagangan internasional menjelang pertengahan tahun.
 
Senior Manager Sekretariat Perusahaan IPC TPK, Daniel Setiawan, mengatakan kesiapan fasilitas dan layanan operasional menjadi faktor penting dalam menjaga kelancaran arus logistik di tengah peningkatan trafik petikemas.
 
“Peningkatan aktivitas logistik selama Mei 2026 mendorong optimalisasi layanan terminal di seluruh area kerja IPC TPK. Kesiapan operasional menjadi kunci utama agar arus barang tetap berjalan lancar, aman, dan efisien,” ujar Daniel.
 
Pertumbuhan trafik tercatat merata di berbagai wilayah operasi perusahaan. Pada periode Mei 2026, Area Panjang mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 18,8 persen, disusul Area Jambi sebesar 15,4 persen. Sementara itu, Area Tanjung Priok 1 dan Tanjung Priok 2 masing-masing tumbuh sebesar 5,5 persen dan 5,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
 
Secara kumulatif hingga Mei 2026, Area Tanjung Priok 1 menjadi wilayah dengan pertumbuhan tertinggi sebesar 9,7 persen, diikuti Area Panjang sebesar 7,4 persen, Area Tanjung Priok 2 sebesar 5,6 persen, Area Pontianak sebesar 3 persen, serta Area Jambi sebesar 1,1 persen.
 
Keberhasilan menjaga tren pertumbuhan ini juga ditopang langkah strategis perusahaan dalam memperluas konektivitas pelayaran internasional. Pada Mei 2026, IPC TPK resmi melayani layanan baru South China Java X-Press (SCJX) milik X-Press Feeders yang menghubungkan Indonesia dengan kawasan China Selatan. Kehadiran layanan tersebut mencerminkan tingginya aktivitas perdagangan dan kebutuhan konektivitas logistik antara Indonesia dan Tiongkok yang terus berkembang.
 
Pertumbuhan trafik IPC TPK juga sejalan dengan kinerja perdagangan nasional yang terus menunjukkan tren positif. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor Indonesia periode Januari–April 2026 mencapai US$92,15 miliar atau tumbuh 5,48 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
 
IPC TPK akan terus memperkuat efisiensi layanan, kesiapan operasional, dan konektivitas pelayaran guna mendukung kelancaran rantai pasok nasional serta pertumbuhan perdagangan internasional.
 
“Melalui peningkatan kualitas layanan dan operational excellence secara konsisten, IPC TPK optimistis dapat terus memberikan kontribusi positif bagi ekosistem logistik nasional dan seluruh mitra pengguna jasa,” tutup Daniel.


Dukung ESG dan SDGs,
IPC TPK Manfaatkan Kembali 209 Kilogram Seragam Bekas
Jakarta, 12 Juni 2026 – PT IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) menghadirkan langkah inovatif dalam mendukung keberlanjutan lingkungan melalui peluncuran program “IPC TPK ReWear Project”, sebuah inisiatif pengelolaan limbah tekstil berbasis upcycling yang menjadi program TJSL pertama di lingkungan Pelindo Group dengan fokus pada pemanfaatan kembali seragam bekas karyawan.
 
Mengusung tagline “Langkah Kecil Dampak Besar”, program ini bertujuan membudayakan sustainable way of life di lingkungan perusahaan melalui langkah sederhana yang memberikan dampak nyata bagi lingkungan. Inisiatif tersebut sekaligus mendukung implementasi prinsip circular economy serta berkontribusi terhadap upaya pengurangan emisi scope 3 melalui pemanfaatan kembali material tekstil yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah.
 
Melalui program ini, IPC TPK berhasil mengumpulkan lebih dari 209 kilogram seragam bekas dari berbagai unit kerja yang kemudian diolah kembali menjadi produk fungsional bernilai guna seperti shopping bag, pouch, dan laptop pouch. Selain memperpanjang siklus hidup material, program ini juga menjadi bentuk pengelolaan limbah yang lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan.
 
Industri fashion global sendiri diketahui menyumbang sekitar 8–10 persen emisi karbon dunia dan menghasilkan lebih dari 92 juta ton limbah tekstil setiap tahunnya. Menjawab tantangan tersebut, IPC TPK menghadirkan ReWear Project sebagai solusi konkret yang tidak hanya berorientasi pada pengurangan limbah, tetapi juga membangun budaya keberlanjutan di lingkungan perusahaan.
 
Sekretariat Perusahaan IPC TPK, Daniel Setiawan, mengatakan program ini menjadi bagian dari implementasi komitmen Environmental, Social, and Governance (ESG) perusahaan sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin 12 mengenai Responsible Consumption and Production serta poin 13 tentang Climate Action.
 
“Melalui IPC TPK ReWear Project, kami ingin menghadirkan solusi nyata dalam pengelolaan limbah tekstil sekaligus membangun kesadaran bersama bahwa sustainability dapat dimulai dari langkah sederhana di lingkungan kerja. Program ini menjadi wujud komitmen IPC TPK dalam mengintegrasikan prinsip ESG ke dalam aktivitas perusahaan secara berkelanjutan,” ujar Daniel.
 
Lebih dari sekadar program pengelolaan limbah, ReWear Project juga mencerminkan keterlibatan aktif karyawan dalam membangun budaya kerja yang lebih peduli lingkungan. Partisipasi pegawai dalam pengumpulan seragam bekas menjadi simbol kolaborasi internal perusahaan dalam menciptakan dampak keberlanjutan yang nyata.
 
Melalui pemanfaatan kembali 209 kilogram seragam bekas, IPC TPK ReWear Project berpotensi menghindari emisi karbon sekitar 5,23 ton CO₂e. Dampak tersebut setara dengan kemampuan serapan karbon tahunan sekitar 1 hektare atau 10.000 meter persegi lahan vegetasi tropis serta penghematan lebih dari 5,2 juta liter air.
 
IPC TPK berharap ReWear Project dapat menjadi inspirasi bagi terciptanya inisiatif serupa di sektor kepelabuhanan dan logistik nasional. Melalui langkah ini, IPC TPK menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan praktik bisnis yang tidak hanya berorientasi pada kinerja operasional, tetapi juga memberikan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat.



Rute Baru Gold Star Line Tambah Direct Connectivity IPC TPK ke Tiongkok Selatan

Jakarta, 11 Juni 2026 – IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) kembali memperkuat konektivitas logistik internasional melalui pelayanan perdana layanan South China Indonesia Service milik Gold Star Line di Terminal Operasi 3 Internasional, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.
 
Kapal MV AS Carolina menjadi kapal pertama (maiden voyage) dari layanan tersebut yang sandar di IPC TPK pada Senin (8/6) pukul 21.30 WIB. Layanan ini menghubungkan sejumlah pelabuhan utama di Tiongkok Selatan, yakni Yantian, Xiamen, dan Nansha, dengan Jakarta dan Surabaya sebagai hub distribusi di Indonesia.
 
Plt. Direktur Komersial dan Pengembangan Bisnis IPC TPK, Yanuar Evyanto, mengatakan kehadiran layanan baru ini menjadi bagian dari penguatan jaringan logistik intra-Asia yang terus berkembang seiring meningkatnya aktivitas perdagangan kawasan. “IPC TPK terus memastikan kesiapan infrastruktur, fasilitas terminal, serta keandalan layanan operasional guna menghadirkan pelayanan yang efisien, aman, dan tepat waktu bagi perusahaan pelayaran global maupun pengguna jasa,” ujar Yanuar.
 
MV AS Carolina merupakan kapal petikemas berbendera Portugal dengan spesifikasi panjang kapal (Length Overall/LOA) 222 meter dan lebar kapal (Beam) 30 meter. Dalam pelayanan perdananya di IPC TPK, kapal tersebut berhasil merampungkan kegiatan bongkar muat sebanyak 1.209 boxes.
 
Kehadiran South China Indonesia Service turut memperluas konektivitas langsung Indonesia dengan kawasan industri utama di Tiongkok Selatan yang selama ini menjadi salah satu pusat manufaktur global. Layanan ini diharapkan dapat memberikan alternatif distribusi yang lebih kompetitif sekaligus mendukung kelancaran rantai pasok bagi pelaku usaha nasional. Sebelumnya, IPC TPK juga telah melayani South China Java X-Press (SCJX) milik X-Press Feeders yang terhubung dengan kawasan Tiongkok Selatan. Kehadiran layanan baru ini mencerminkan tingginya aktivitas perdagangan dan kebutuhan akan konektivitas logistik antara Indonesia dan Tiongkok yang terus berkembang.
 
Dengan dukungan operasional 24/7 serta penguatan digitalisasi layanan kepelabuhanan, IPC TPK optimistis dapat mengakomodasi pertumbuhan arus perdagangan bilateral Indonesia–Tiongkok yang terus berkembang.
 
“Kami berharap layanan ini dapat berjalan secara berkelanjutan dan memberikan kontribusi positif bagi kelancaran arus barang, penguatan perdagangan kedua negara, serta peningkatan daya saing logistik nasional,” tutup Yanuar.

Minggu, 17 Mei 2026

Press Release IPC TPK edisi Mei 2026 (Kerjasama)




Press Release  IPC TPK edisi 5  Mei  2026 (Kerjasama)

                                        Safety Jadi Prioritas, IPC TPK Perkuat Budaya Kerja Aman

Jakarta, 5 Mei 2026 – Di balik tingginya aktivitas bongkar muat di terminal petikemas, keselamatan kerja menjadi aspek yang tidak dapat ditawar. Bagi IPC Terminal Petikemas (IPC TPK), operasional yang produktif dan andal hanya dapat tercapai apabila seluruh aktivitas kerja dijalankan dengan budaya keselamatan yang kuat oleh seluruh insan pelabuhan, termasuk mitra kerja yang sehari-hari beroperasi di area terminal.
 
Komitmen tersebut ditegaskan IPC TPK melalui penyelenggaraan Sharing Session: Safety Awareness 2026 yang digelar secara hybrid di Aula Gedung Pelindo Regional 2 Cabang Tanjung Priok (30/4). Mengangkat tema “Peran Kesehatan dan Behavior Based Safety dalam Pencegahan Kecelakaan Kerja pada Pekerja Kantor dan Lapangan”, kegiatan ini menjadi bagian dari langkah strategis perusahaan dalam memperkuat budaya keselamatan kerja secara menyeluruh di lingkungan terminal.
 
Forum ini tidak hanya menjadi ajang berkumpulnya stakeholder pelabuhan, tetapi juga momentum untuk menyamakan kesadaran bahwa keselamatan kerja merupakan tanggung jawab bersama. IPC TPK memandang bahwa setiap pekerja yang berada di area terminal, baik pegawai internal maupun mitra kerja perusahaan bongkar muat, memiliki peran penting dalam menjaga operasional pelabuhan tetap aman dan lancar.
 
Direktur Utama IPC TPK, Guna Mulyana, menegaskan bahwa tidak ada pencapaian operasional yang sebanding dengan risiko kehilangan nyawa akibat kecelakaan kerja. Menurutnya, keselamatan harus menjadi prioritas utama dalam setiap aktivitas operasional terminal. “Melihat kinerja yang semakin meningkat dari tahun ke tahun, kami menghimbau seluruh pekerja untuk terus mengubah behavior agar lebih mengutamakan safety dan peduli terhadap kondisi kerja. Kita bekerja tidak lain datang selamat dan pulang selamat,” ujar Guna.
 
Ia menambahkan, kecelakaan kerja tidak hanya menimbulkan kerugian moril dan materiil, tetapi juga dapat berdampak langsung terhadap terganggunya kegiatan operasional terminal dan rantai logistik di pelabuhan. Karena itu, perusahaan terus mendorong penguatan budaya safety agar menjadi kebiasaan dan kesadaran kolektif seluruh pihak yang bekerja di area terminal.
 
Dengan aktivitas operasional yang berlangsung 24 jam dan melibatkan alat berat serta mobilitas tinggi, IPC TPK menilai pendekatan Behavior Based Safety (BBS) menjadi langkah penting untuk membangun perilaku kerja yang lebih disiplin, waspada, dan peduli terhadap risiko kerja.
 
Hadir sebagai narasumber utama, Pakar Kesehatan Okupasi dr. Muhammad Ilyas, Sp. OK, yang menyoroti pentingnya perubahan perilaku dalam menekan angka kecelakaan kerja di lingkungan pelabuhan. Ia menjelaskan bahwa sebagian besar insiden kerja dipicu oleh perilaku tidak aman, rendahnya awareness terhadap risiko, hingga kondisi kelelahan kerja (fatigue) yang kerap tidak disadari pekerja.
 
Menurutnya, penerapan fatigue management, pola hidup sehat, serta peningkatan kesadaran keselamatan menjadi faktor penting untuk meminimalisir human error dalam aktivitas operasional terminal petikemas yang memiliki tingkat risiko tinggi.
 
Kegiatan ini dihadiri oleh Executive General Manager Pelindo Regional 2 Tanjung Priok Yandri Trisaputra, mitra perusahaan bongkar muat, dan jajaran manajemen IPC TPK. Kehadiran para stakeholder tersebut mencerminkan pentingnya kolaborasi dalam membangun budaya keselamatan yang lebih kuat dan berkelanjutan di lingkungan pelabuhan.
 
Melalui Safety Awareness 2026, IPC TPK menegaskan komitmennya untuk terus menggiatkan budaya keselamatan sebagai fondasi utama operasional perusahaan. Perusahaan meyakini bahwa terminal yang produktif hanya dapat tercipta apabila seluruh pekerja dapat menjalankan aktivitas secara aman, sehat, dan selamat.
 
“Harapan ke depannya, mari sama-sama kita lakukan perbaikan-perbaikan untuk terus mengutamakan safety baik pekerja lapangan maupun back office,” tutup Guna.




Press Release  IPC TPK edisi 6  Mei  2026 (Kerjasama)





Ribuan Kontainer Kosong Masuk IPC TPK Panjang,
Topang Pergerakan Ekspor Sumatera
Bandar Lampung, 6 Mei 2026 – IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) Panjang menerima kedatangan kapal MV MSC Polonia III dengan muatan peti kemas kosong (empty container) terbesar sepanjang tahun 2026. Kehadiran kapal ini menjadi momentum penting dalam mendukung kelancaran arus logistik, khususnya untuk kebutuhan ekspor dan impor di wilayah Sumatera.
 
Dalam kegiatan bongkar muat, kapal ini mencatatkan total 2.318 box (2.470 TEUs). Aktivitas bongkar didominasi oleh peti kemas kosong sebanyak 1.772 box (1.787 TEUs), serta 124 box full (228 TEUs). Sementara itu, kegiatan muat tercatat sebanyak 422 box full (455 TEUs).
 
Masuknya sekitar 1.700 lebih empty container ini terjadi di tengah kondisi industri logistik yang saat ini menghadapi ketidakseimbangan antara permintaan dan ketersediaan kontainer. Dalam beberapa waktu terakhir, permintaan ekspor tercatat lebih tinggi dibandingkan dengan ketersediaan kontainer kosong, yang berdampak pada tertundanya pengiriman serta kenaikan biaya logistik.
 
Kedatangan kapal ini menjadi tambahan pasokan yang signifikan, sekaligus membantu mempercepat pengiriman ekspor yang sebelumnya tertahan (backlog), serta menjadi bentuk intervensi langsung terhadap ketidakseimbangan supply-demand kontainer.
 
“Kehadiran kontainer kosong dalam jumlah besar ini diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan pelaku usaha, khususnya dalam mendukung kelancaran aktivitas ekspor dari wilayah Sumatera,” ujar Anang Subagyono, Manager Area IPC TPK Panjang.
 
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Provinsi Lampung, secara kinerja perdagangan, aktivitas ekspor di wilayah Sumatera, khususnya Provinsi Lampung, menunjukkan tren yang kuat. Berdasarkan data tahun 2026, nilai ekspor Lampung tercatat sekitar US$500 juta per bulan, dengan total US$992,45 juta pada periode Januari–Februari 2026. Hal ini mencerminkan tingginya demand logistik di wilayah Sumatera yang terus meningkat.
 
Dalam konteks ini, ketersediaan kontainer kosong menjadi faktor krusial. Kehadiran kapal dengan muatan empty container dalam jumlah besar tidak hanya menambah pasokan, tetapi juga berperan sebagai enabler ekspor, yang memastikan kelancaran distribusi barang ke pasar global.
 
Lebih lanjut, penempatan kontainer kosong dalam jumlah besar di IPC TPK Panjang juga menjadi indikasi meningkatnya permintaan pasar (market signal). Shipping line umumnya menempatkan kontainer di wilayah dengan potensi ekspor tinggi, sehingga hal ini mencerminkan optimisme terhadap aktivitas perdagangan di kawasan Sumatera.
 
IPC TPK Panjang juga semakin menunjukkan perannya sebagai alternative gateway logistik di Sumatera, khususnya melalui layanan pelayaran yang terhubung langsung (direct call) ke hub internasional seperti Singapura, sehingga memberikan efisiensi waktu dan biaya logistik bagi pelaku usaha.
 
“Kami melihat adanya peningkatan aktivitas logistik di wilayah Sumatera, yang tercermin dari kebutuhan kontainer serta arus barang yang terus tumbuh,” tambah Anang.
 
Seiring dengan dinamika tersebut, IPC TPK Panjang siap mendukung pelaku logistik, baik perusahaan pelayaran maupun pemilik barang, dengan menghadirkan layanan terminal yang kompeten, cepat, dan efisien. Kesiapan ini tercermin dari optimalisasi operasional bongkar muat yang terus dijaga, sehingga mampu mengakomodasi pertumbuhan arus peti kemas dan peningkatan trafik secara berkelanjutan.
 
Dengan dukungan fasilitas dan layanan yang andal, IPC TPK Panjang juga siap menghadapi dinamika industri logistik yang terus berkembang, sekaligus memastikan kelancaran arus barang di wilayah Sumatera tetap terjaga. Kedatangan kontainer kosong dalam jumlah besar ini diharapkan dapat mendukung stabilitas rantai pasok, menjaga kelancaran distribusi, serta meningkatkan daya saing ekspor Indonesia di pasar global.




Press Release  IPC TPK edisi 8 Mei  2026 (Kerjasama)



IPC TPK Jambi Perkuat Ekspor Kayu Manis, Komoditas Unggulan Asal Jambi
Jambi, 8 Mei 2026 – IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) Area Jambi mendukung kelancaran ekspor kayu manis sebagai komoditas unggulan daerah melalui optimalisasi layanan di Terminal Petikemas Pelabuhan Talang Duku. Upaya ini sejalan dengan kerja sama strategis antara PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) Regional 2 Jambi dan Cassia Co-Op dalam mendorong ekspor kayu manis asal Kerinci ke pasar global.
 
Melalui kolaborasi ini, ekspor kayu manis menggunakan petikemas ditargetkan mencapai 1.500 ton sepanjang tahun 2026, dengan tujuan pasar Amerika, Eropa, dan Asia. Indonesia merupakan salah satu produsen utama kayu manis dunia dengan kontribusi sekitar 20% terhadap pasokan global, sementara wilayah Kerinci di Provinsi Jambi menjadi salah satu sentra utama yang menyumbang sebagian besar produksi nasional dan dikenal sebagai penghasil kayu manis berkualitas ekspor.
 
Manager Operasi IPC TPK Area Jambi, Wedhar Tani Aji, menyampaikan bahwa kesiapan operasional terminal menjadi faktor utama dalam menjaga kelancaran arus ekspor.
 
“Sebagai operator terminal, kami memastikan kesiapan layanan logistik agar tetap efisien dan terintegrasi sehingga distribusi dapat berlangsung lebih lancar dan tepat waktu. Hal ini menjadi kunci dalam menjaga daya saing komoditas unggulan daerah di pasar global” ujarnya.
 
Ia menambahkan bahwa Jambi memiliki beragam potensi komoditas unggulan yang memiliki peluang besar untuk berkembang di pasar internasional seperti kopi, karet, pinang, dan lainnya. Kehadiran pelabuhan dan sistem logistik yang andal diharapkan dapat menjadi penghubung bagi produk-produk lokal agar semakin dikenal di pasar dunia.
 
“Pada prinsipnya, pelabuhan siap mendukung geliat ekspor komoditas asli Jambi. Tidak hanya kayu manis, masih banyak potensi daerah yang dapat dikembangkan bersama. Tentunya hal ini membutuhkan kolaborasi dan sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, petani, serta seluruh pemangku kepentingan agar potensi tersebut dapat dimaksimalkan,” tambahnya.
 
Kolaborasi ini tidak hanya memperlancar distribusi, tetapi juga memperluas akses pasar internasional bagi komoditas lokal serta meningkatkan nilai tambah bagi pelaku usaha dan petani di daerah. Dengan dukungan sistem logistik yang efisien, kayu manis Kerinci diharapkan mampu memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok rempah dunia.
 
Ke depan, IPC TPK Area Jambi akan terus meningkatkan kualitas layanan kepelabuhanan dan efisiensi operasional guna mendukung peran Pelabuhan Talang Duku sebagai gerbang ekspor komoditas unggulan Jambi ke pasar internasional.



Press Release  IPC TPK edisi  12 Mei  2026 (Kerjasama)




IPC Terminal Petikemas Dorong Inklusi Ekonomi Perempuan Penyandang Disabilitas
Melalui Program TJSL di Kalimantan Barat
Pontianak, 12 Mei 2026 – IPC Terminal Petikemas kembali menunjukkan komitmennya terhadap pembangunan yang inklusif melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) berupa Pelatihan Keterampilan Perawatan Wajah dan Tubuh bagi Terapis Perempuan Penyandang Disabilitas di Kalimantan Barat. Program hasil kolaborasi dengan Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Kalimantan Barat dan Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Provinsi Kalimantan Barat ini menjadi langkah nyata dalam membuka akses keterampilan dan peluang ekonomi bagi perempuan penyandang disabilitas.
 
Selama tiga hari, 11–13 Mei 2026, sebanyak 20 perempuan penyandang disabilitas mengikuti pelatihan keterampilan facial dan massage yang dirancang tidak hanya untuk meningkatkan kemampuan teknis, tetapi juga membangun kepercayaan diri dan kemandirian ekonomi peserta. Selain praktik langsung bersama trainer profesional, peserta juga mendapatkan pembekalan pelayanan pelanggan hingga dasar kewirausahaan sebagai bekal memasuki dunia kerja maupun membangun usaha mandiri.
 
Corporate Secretary IPC Terminal Petikemas, Daniel Setiawan, menegaskan bahwa program TJSL perusahaan diarahkan untuk menciptakan dampak sosial yang berkelanjutan. “Bagi kami, TJSL bukan sekadar memberikan bantuan, tetapi membuka peluang dan menciptakan perubahan yang nyata. Melalui program ini, kami ingin perempuan penyandang disabilitas memiliki ruang untuk tumbuh, berkarya, dan mandiri secara ekonomi,” ujarnya.
 
Dukungan terhadap program ini juga disampaikan Kepala Bidang Pemberdayaan UKM Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Provinsi Kalimantan Barat, Permai Budi Susatyo. Menurutnya, pelatihan ini menjadi bagian penting dalam memperluas akses pemberdayaan ekonomi bagi kelompok rentan. “Kegiatan ini kami harapkan dapat meningkatkan kompetensi peserta agar semakin berdaya, mandiri, dan mampu memenuhi kebutuhan hidup pribadi maupun keluarga. Berdasarkan Data SIDT tahun 2026, terdapat 338.257 pelaku UMKM di Kalimantan Barat dan sebanyak 88.293 pelaku kewirausahaan. Artinya, peluang untuk bertumbuh di sektor usaha terbuka luas, termasuk bagi penyandang disabilitas,” katanya.
 
Bagi banyak perempuan penyandang disabilitas, tantangan terbesar kerap bukan terletak pada kemampuan, melainkan keterbatasan akses dan kesempatan. Karena itu, program ini dirancang sebagai ruang belajar dan ruang tumbuh yang mempertemukan perusahaan, komunitas disabilitas, pemerintah daerah, trainer profesional, hingga mitra usaha lokal untuk bersama-sama membuka peluang yang lebih luas bagi perempuan disabilitas.
 
Ketua HWDI Kalimantan Barat, Linda Fardini, menyampaikan apresiasi atas inisiatif yang dihadirkan IPC Terminal Petikemas. “Perempuan disabilitas juga harus memiliki kesempatan yang sama untuk mandiri dan berkembang. Kami berharap keterampilan yang diperoleh peserta dapat menjadi bekal nyata untuk berusaha dan meningkatkan kualitas hidup. Terima kasih kepada IPC Terminal Petikemas atas kepedulian dan dukungan yang diberikan bagi perempuan disabilitas di Kalimantan Barat,” ungkapnya.
 
Program ini menjadi bagian dari komitmen berkelanjutan IPC Terminal Petikemas dalam menghadirkan dampak sosial melalui pendekatan from skill to sustainability, yaitu proses pemberdayaan yang dimulai dari penguasaan keterampilan dasar, praktik langsung, hingga membuka akses terhadap peluang pengembangan usaha di masa mendatang.
 
Inisiatif tersebut juga sejalan dengan dukungan perusahaan terhadap Asta Cita ke-4 Pemerintah Republik Indonesia dalam penguatan pembangunan sumber daya manusia melalui pemberdayaan perempuan dan penyandang disabilitas. Selain itu, program ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Kesetaraan Gender (SDG 5), Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi (SDG 8), serta Berkurangnya Kesenjangan (SDG 10).
 
Melalui program ini, IPC Terminal Petikemas percaya bahwa inklusi tidak berhenti pada wacana, tetapi harus diwujudkan melalui akses, keterampilan, dan peluang nyata agar setiap individu memiliki kesempatan yang setara untuk berkembang dan mandiri.





Press Release  IPC TPK edisi  13 Mei  2026 (Kerjasama)



Kunjungan Mahasiswa UI ke IPC TPK,
Sinkronisasi Teori Akademik dan Realita Industri Pelabuhan
Jakarta, 13 Mei 2026 – Di balik aktivitas bongkar muat, pelabuhan merupakan simpul utama rantai pasok nasional sekaligus pusat konektivitas ekonomi yang membuka ruang besar bagi berbagai disiplin ilmu dan talenta masa depan. Berangkat dari semangat tersebut, IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) menerima kunjungan industri dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia sebagai bagian dari Program Jejak Pelabuhan pada Jumat (8/5) lalu.
 
Program Jejak Pelabuhan merupakan inisiatif IPC TPK untuk membuka akses pembelajaran industri sekaligus menjembatani teori akademik dengan realita operasional di lapangan. Melalui program ini, mahasiswa diperkenalkan secara langsung pada ekosistem kepelabuhanan modern yang kini berkembang jauh melampaui aktivitas operasional konvensional.
 
Selama kunjungan, peserta berkesempatan melihat langsung alur kerja logistik modern dengan mengunjungi Integrated Planning & Control Room serta Terminal Operasi 3 di Pelabuhan Tanjung Priok. Tidak hanya menyaksikan proses bongkar muat peti kemas, mahasiswa juga memperoleh pemahaman mengenai bagaimana pelabuhan menjadi simpul penting rantai pasok global, pusat pengambilan keputusan bisnis, hingga bagian dari transformasi digital dan sustainability dalam industri logistik nasional.
 
Pada kunjungan ini, mahasiswa turut menggali lebih dalam mengenai peran digitalisasi dalam operasional pelabuhan modern, mulai dari pemanfaatan sistem terintegrasi untuk mendukung efisiensi layanan hingga upaya mitigasi risiko terhadap potensi gangguan operasional. Selain itu, mahasiswa memperoleh gambaran mengenai pengelolaan customer relation, struktur organisasi di lingkungan pelabuhan, serta pentingnya koordinasi lintas sektor dan fungsi dalam memastikan kelancaran proses bongkar muat sebagai bagian penting dari rantai pasok nasional.
 
Corporate Secretary IPC TPK, Daniel Setiawan, menyampaikan bahwa kunjungan ini menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam membuka wawasan generasi muda terhadap industri kepelabuhanan dan logistik yang terus berkembang.
 
“Dunia kepelabuhanan hari ini bukan lagi industri yang eksklusif atau hanya dipahami kalangan tertentu. Industri ini sangat terbuka dan membutuhkan banyak perspektif keilmuan, mulai dari ekonomi, bisnis, teknologi, data, sustainability, hingga komunikasi. Karena itu, kami ingin membuka wawasan bahwa pelabuhan adalah industri masa depan yang relevan bagi generasi muda,” ujar Daniel.
 
Berbeda dengan kunjungan akademik pada umumnya, Program Jejak Pelabuhan dirancang untuk memberikan pengalaman industri yang lebih kontekstual dan strategis. Mahasiswa diajak memahami bagaimana efisiensi logistik memengaruhi biaya distribusi nasional, bagaimana arus perdagangan internasional bergerak melalui pelabuhan, hingga bagaimana terminal petikemas bertransformasi melalui digitalisasi dan penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).
 
Sebagai operator terminal petikemas di bawah naungan Pelindo Group, IPC TPK menilai bahwa pengenalan industri sejak dini menjadi penting untuk memperkecil kesenjangan antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri. Keterbukaan akses terhadap dunia kepelabuhanan juga diharapkan dapat mengubah perspektif generasi muda bahwa sektor ini merupakan bidang yang dinamis, modern, dan memiliki prospek besar di masa depan.
 
“Melalui Program Jejak Pelabuhan, kami ingin menghadirkan pengalaman belajar yang lebih dekat dengan realita industri. Mahasiswa tidak hanya melihat proses operasional, tetapi juga memahami bagaimana pelabuhan bekerja sebagai penghubung rantai pasok dan penggerak aktivitas ekonomi. Harapannya, mahasiswa dapat melihat langsung bahwa sektor ini terus berkembang dan membutuhkan banyak talenta dengan beragam latar belakang keilmuan,” tutup Daniel Setiawan.




Press Release  IPC TPK edisi  16 Mei  2026 (Kerjasama)



 IPC TPK Panjang Perbesar Kapasitas Bongkar Muat
dengan QCC Post Panamax
 
Bandar Lampung, 16 Mei 2026 – Penguatan infrastruktur bongkar muat terus dilakukan IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) Area Panjang guna meningkatkan kapasitas layanan dan mendukung kelancaran arus logistik di wilayah Sumatera Bagian Selatan. Salah satu langkah strategis tersebut diwujudkan melalui penambahan satu unit Quay Container Crane (QCC) berjenis Post Panamax yang tiba di Pelabuhan Panjang menggunakan kapal MV Zheng Hua 37 asal China.
 
Kedatangan crane baru ini merupakan bagian dari program investasi Pelindo Terminal Petikemas untuk mendukung peningkatan kapasitas dan produktivitas bongkar muat di terminal. Dengan tambahan alat tersebut, IPC TPK Area Panjang kini memiliki total empat unit QCC yang siap memperkuat pelayanan kapal dan arus petikemas di terminal. Langkah strategis ini diambil guna merespons lonjakan volume arus petikemas yang tumbuh signifikan sebesar 24% pada tahun lalu.
 
Manager IPC TPK Area Panjang, Anang Subagyono, menegaskan bahwa penambahan QCC merupakan bagian dari upaya perusahaan meningkatkan daya saing pelabuhan sekaligus memperkuat rantai logistik nasional di wilayah Lampung dan sekitarnya.
 
"Penambahan QCC Post Panamax ini merupakan langkah strategis untuk meningkatkan kapasitas layanan dan produktivitas terminal. Kami ingin memastikan IPC TPK Panjang mampu menjawab kebutuhan pengguna jasa seiring meningkatnya aktivitas logistik dan arus petikemas di wilayah Sumatera Bagian Selatan," ujar Anang saat meninjau kedatangan alat tersebut.
 
Peningkatan kapasitas tersebut sejalan dengan pertumbuhan arus petikemas IPC TPK Panjang yang terus menunjukkan tren positif. Sepanjang tahun 2025, terminal mencatat arus petikemas sebesar 128.675 TEUs atau tumbuh sekitar 24% dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 103.700 TEUs.
 
Crane raksasa tersebut tiba di Pelabuhan Panjang dengan diangkut oleh kapal MV Zheng Hua 37 asal China pada Kamis (14/5). Dengan tambahan armada ini, IPC TPK Area Panjang kini memiliki total 4 unit QCC yang siap mengoptimalkan layanan bongkar muat di gerbang logistik utama wilayah Sumatera Bagian Selatan tersebut.
 
Secara teknis, QCC Post Panamax ini memiliki keunggulan outreach sepanjang 45 meter dengan jangkauan 16 hingga 17 baris petikemas. Spesifikasi ini memungkinkan pelabuhan untuk melayani kapal-kapal dengan kapasitas yang lebih besar secara lebih efisien.
 
Pasca sandarnya MV Zheng Hua 37, tim teknis akan melakukan proses rolling-off atau penurunan crane menuju dermaga terminal. Sebelum dioperasikan secara penuh, alat ini akan melalui serangkaian tahapan mulai dari instalasi sistem, uji beban (commissioning test), hingga integrasi dengan sistem operasional terminal (TOS).
 
Anang menambahkan bahwa investasi infrastruktur ini diproyeksikan menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi regional. "Kedatangan unit QCC Post Panamax ini menandai babak baru modernisasi di Pelabuhan Panjang. Kami ingin memastikan bahwa infrastruktur yang kami miliki tidak hanya mampu menopang tren peningkatan operasional saat ini, tetapi juga siap menjadi katalisator utama bagi pertumbuhan ekonomi dan kelancaran arus logistik nasional di wilayah Lampung dan sekitarnya," tutup Anang



Press Release  IPC TPK edisi  19 Mei  2026 (Kerjasama)




IPC TPK Catat Pertumbuhan Positif pada Awal Triwulan II 2026 
Jakarta, 19 Mei 2026 – IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) membuka Triwulan II/2026 dengan mencatat peningkatan kinerja operasional. Realisasi throughput hingga April 2026 sukses mencapai 1.159.575 TEUs, meningkat 6,7% dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya sebesar 1.086.766 TEUs.
 
Peningkatan throughput IPC TPK sejalan dengan tren pertumbuhan perdagangan nasional. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan nilai impor Indonesia periode Januari–Maret 2026 tumbuh 10,05% secara tahunan, sementara neraca perdagangan nasional masih mencatat surplus sebesar US$5,55 miliar.
 
Di sisi lain, di tengah dinamika rantai pasok global yang masih menghadapi tantangan, termasuk meningkatnya biaya logistik serta ketidakpastian jalur pelayaran internasional akibat eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah, kondisi tersebut turut memengaruhi aktivitas pengiriman laut global dan mendorong penyesuaian pada sejumlah rute maritim internasional. Meski demikian, IPC TPK tetap menjaga keandalan layanan dan efisiensi operasional guna memastikan kelancaran arus barang tetap terjaga.
 
Senior Manager Sekretariat Perusahaan IPC TPK, Daniel Setiawan, mengatakan perusahaan terus menjaga optimalisasi layanan dan efisiensi operasional guna mendukung kelancaran distribusi logistik nasional.
 
“Optimalisasi dan efisiensi layanan terus kami pertahankan guna mendukung kelancaran arus barang serta menjaga daya saing logistik nasional,” ujar Daniel.
 
Secara year-on-year, peningkatan kinerja pada bulan April 2026 sangat signifikan, yakni 26,78% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pada bulan April 2026, kinerja operasi tercatat sebesar 308.810 TEUs, meningkat pesat dibandingkan dengan April 2025 yang mencapai 243.579 TEUs.
 
Peningkatan tertinggi terjadi di wilayah Tanjung Priok, terutama di IPC TPK Area Tanjung Priok 2 yang tumbuh 36,7% serta Area Tanjung Priok 1 sebesar 24,3%. Pertumbuhan tersebut didorong oleh tambahan layanan ad hoc dan peningkatan volume dari sejumlah shipping line.
 
Sementara itu, IPC TPK Area Palembang turut mencatat pertumbuhan sebesar 18,7% seiring meningkatnya aktivitas ekspor dan impor sejumlah komoditas seperti rubber, wood product, coconut, hingga metal box.
 
Di tengah pertumbuhan arus petikemas, IPC TPK juga terus memperkuat langkah strategis di berbagai wilayah operasional. Pada April 2026, IPC TPK Teluk Bayur bersama PTP Nonpetikemas Cabang Teluk Bayur menjalin sinergi pemanfaatan dermaga dan peralatan bongkar muat guna mendukung kelancaran layanan logistik di Sumatera Barat.
 
Sementara itu, IPC TPK Area Jambi turut mendukung kelancaran ekspor kayu manis melalui optimalisasi layanan di Terminal Petikemas Pelabuhan Talang Duku guna memperluas akses pasar internasional bagi komoditas unggulan daerah.
 
Menurut Daniel, perusahaan akan terus fokus menjaga stabilitas operasional dan kesiapan infrastruktur guna mengantisipasi dinamika industri logistik ke depan.
 
“Kami terus memperkuat kesiapan infrastruktur dan standardisasi layanan di seluruh terminal agar tetap mampu menjaga kelancaran arus barang di tengah dinamika logistik global yang terus berkembang,” tutup Daniel.




Press Release  IPC TPK edisi  20 Mei  2026 (Kerjasama)




IPC IPC TPK Panjang Tingkatkan Efisiensi Ekspor
Melalui Sinergi Layanan Depo Petikemas
 
Bandar Lampung, 20 Mei 2026 – IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) memperkuat layanan logistik di wilayah Lampung melalui pengoperasian depo petikemas di kawasan Pelabuhan Panjang, Bandar Lampung, bersama PT Citra Prima Container sebagai mitra strategis. Langkah ini menjadi bagian dari upaya IPC TPK dalam meningkatkan kualitas layanan pendukung terminal petikemas sekaligus memperlancar arus barang ekspor dan impor di wilayah tersebut.
 
Depo petikemas seluas 10.000 m2 merupakan salah satu fasilitas pendukung terminal yang berperan penting dalam memudahkan pengguna jasa melakukan pengiriman barang menggunakan petikemas. Kehadiran depo yang terintegrasi dengan terminal petikemas dalam satu kawasan diharapkan dapat mempercepat proses logistik, mulai dari penyiapan petikemas kosong (empty container), hingga pengiriman barang ke kapal.
 
Manager IPC TPK Area Panjang, Anang Subagyono, mengatakan kolaborasi layanan depo petikemas ini merupakan langkah strategis dalam memperkuat ekosistem logistik di Pelabuhan Panjang. Melalui sinergi dengan PT Citra Prima Container sebagai pengelola depo, IPC TPK mendukung ketersediaan petikemas kosong (empty container) bagi kebutuhan ekspor yang terus meningkat. Integrasi layanan antara terminal petikemas dan depo dalam satu kawasan diharapkan dapat meningkatkan efisiensi distribusi barang serta memberikan kemudahan bagi pengguna jasa.
 
Melalui sinergi layanan antara terminal petikemas yang dikelola IPC TPK dan depo petikemas yang dioperasikan oleh mitra, kami berupaya menghadirkan ekosistem logistik yang lebih terintegrasi di Pelabuhan Panjang. Kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya bersama dalam mendukung kelancaran distribusi petikemas kosong untuk kebutuhan ekspor, sehingga pengguna jasa dapat memperoleh layanan logistik yang lebih efisien dan tepat waktu,” ujar Anang Subagyono, Manager IPC TPK Area Panjang.
 
Seiring tingginya aktivitas perdagangan melalui Pelabuhan Panjang, kebutuhan terhadap layanan logistik yang terintegrasi juga terus meningkat. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung mencatat nilai ekspor Lampung pada Januari–Maret 2026 mencapai US$1,38 miliar. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya dukungan fasilitas logistik, termasuk depo petikemas yang terintegrasi dengan terminal, guna mempercepat arus barang dan meningkatkan efisiensi layanan bagi pengguna jasa.
 
Kehadiran depo petikemas ini diharapkan menjadi solusi konkret di tengah tren kenaikan komoditas ekspor di wilayah Panjang dan sekitarnya. Dengan proses distribusi empty container yang lebih memangkas waktu operasional, para eksportir kini dapat mengoptimalkan kapasitas pengiriman mereka. Kemudahan mengakses petikemas kosong yang siap digunakan diyakini akan menjadi stimulus kuat dalam mendorong peningkatan volume ekspor komoditas unggulan daerah ke pasar global.
 
Langkah strategis ini juga menjadi wujud nyata dari komitmen bersama kedua perusahaan dalam mendukung kelancaran logistik nasional. Integrasi layanan antara terminal dan depo petikemas yang efisien akan meminimalkan hambatan operasional di lapangan. Pada akhirnya, penguatan rantai pasok (supply chain) ini tidak hanya meningkatkan daya saing Pelabuhan Panjang, tetapi juga membuka peluang pertumbuhan ekonomi yang jauh lebih besar bagi wilayah sekitarnya.
 
“Kolaborasi layanan depo petikemas di kawasan Pelabuhan Panjang ini merupakan bentuk sinergi antar pelaku logistik untuk memperkuat konektivitas dan memberikan kemudahan bagi pengguna jasa. Dengan integrasi layanan antara terminal petikemas dan depo, diharapkan proses logistik menjadi lebih efisien serta mampu mendukung upaya penurunan biaya logistik,” tutup Anang.



Press Release  IPC TPK edisi  28 Mei  2026 (Kerjasama)





IPC TPK Tebar Kepedulian Iduladha ke Seluruh Wilayah Operasional
Jakarta, 28 Mei 2026 – Hari Raya Iduladha 1447 H menjadi momentum bagi IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) untuk memperluas manfaat sosial bagi masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan. Tahun ini, IPC TPK menyalurkan 26 hewan kurban kepada masyarakat di berbagai daerah operasional sebagai wujud kepedulian sosial dan penguatan hubungan harmonis antara pelabuhan dan lingkungan sekitarnya.
 
Penyaluran hewan kurban dilakukan di sejumlah wilayah operasional IPC TPK, mulai dari Jakarta, Pontianak, Palembang, Jambi, Padang, dan Lampung. Bantuan tersebut diberikan kepada masyarakat di ring 1 pelabuhan, Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM), stakeholder pelabuhan, yayasan sosial, hingga kelompok masyarakat yang membutuhkan.
 
Bagi IPC TPK, Iduladha bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi juga ruang untuk menghadirkan kebermanfaatan yang lebih luas di tengah masyarakat. Kehadiran perusahaan di kawasan pelabuhan diharapkan tidak hanya mendorong aktivitas logistik dan ekonomi, tetapi juga mampu memberikan dampak sosial yang nyata dan berkelanjutan.
 
Program ini menjadi bagian dari implementasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG), khususnya pada aspek sosial melalui penguatan hubungan yang inklusif dan berkelanjutan dengan masyarakat sekitar pelabuhan. Selain itu, program ini turut mencerminkan penerapan nilai Diversity, Equity, and Inclusion (DEI) dengan memastikan distribusi manfaat dapat dirasakan secara merata oleh berbagai lapisan masyarakat di wilayah operasional perusahaan.
 
Senior Manager Sekretariat Perusahaan IPC Terminal Petikemas, Daniel Setiawan, mengatakan bahwa semangat Iduladha menjadi pengingat penting mengenai arti berbagi dan kepedulian sosial, terutama bagi masyarakat yang hidup berdampingan dengan aktivitas pelabuhan. “Melalui program penyaluran hewan kurban ini, IPC TPK ingin menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus mempererat hubungan yang harmonis antara perusahaan dan lingkungan sekitar. Kami percaya bahwa pelabuhan bukan hanya ruang aktivitas logistik, tetapi juga bagian dari ekosistem sosial yang harus tumbuh bersama masyarakat,” ujarnya.
 
Lebih lanjut, program ini juga sejalan dengan dukungan IPC TPK terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2 – Zero Hunger (Tanpa Kelaparan) melalui distribusi pangan bergizi kepada masyarakat dan SDG 10 – Reduced Inequalities (Berkurangnya Kesenjangan) melalui pemerataan manfaat sosial di sekitar wilayah operasional perusahaan.
 
Upaya tersebut dinilai relevan dengan tantangan ketahanan pangan yang masih menjadi perhatian, khususnya di wilayah Jakarta Utara. Dalam dokumen Rencana Aksi Daerah Pangan dan Gizi DKI Jakarta 2024–2026, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menargetkan angka Prevalence of Undernourishment (PoU) atau prevalensi ketidakcukupan konsumsi pangan mencapai sekitar 2,5% pada tahun 2026. Sementara itu, Pemerintah Kota Jakarta Utara juga terus menjalankan berbagai program percepatan penurunan stunting dan penguatan ketahanan pangan masyarakat.
 
Melalui semangat Iduladha, IPC TPK berharap nilai kebersamaan, solidaritas, dan kepedulian sosial dapat terus tumbuh serta memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan.



oOo