Press Release IPC TPK edisi 5 Mei 2026 (Kerjasama)
Safety Jadi Prioritas, IPC TPK Perkuat Budaya Kerja Aman
Jakarta, 5 Mei 2026 – Di balik tingginya aktivitas bongkar muat di terminal petikemas, keselamatan kerja menjadi aspek yang tidak dapat ditawar. Bagi IPC Terminal Petikemas (IPC TPK), operasional yang produktif dan andal hanya dapat tercapai apabila seluruh aktivitas kerja dijalankan dengan budaya keselamatan yang kuat oleh seluruh insan pelabuhan, termasuk mitra kerja yang sehari-hari beroperasi di area terminal.
Komitmen tersebut ditegaskan IPC TPK melalui penyelenggaraan Sharing Session: Safety Awareness 2026 yang digelar secara hybrid di Aula Gedung Pelindo Regional 2 Cabang Tanjung Priok (30/4). Mengangkat tema “Peran Kesehatan dan Behavior Based Safety dalam Pencegahan Kecelakaan Kerja pada Pekerja Kantor dan Lapangan”, kegiatan ini menjadi bagian dari langkah strategis perusahaan dalam memperkuat budaya keselamatan kerja secara menyeluruh di lingkungan terminal.
Forum ini tidak hanya menjadi ajang berkumpulnya stakeholder pelabuhan, tetapi juga momentum untuk menyamakan kesadaran bahwa keselamatan kerja merupakan tanggung jawab bersama. IPC TPK memandang bahwa setiap pekerja yang berada di area terminal, baik pegawai internal maupun mitra kerja perusahaan bongkar muat, memiliki peran penting dalam menjaga operasional pelabuhan tetap aman dan lancar.
Direktur Utama IPC TPK, Guna Mulyana, menegaskan bahwa tidak ada pencapaian operasional yang sebanding dengan risiko kehilangan nyawa akibat kecelakaan kerja. Menurutnya, keselamatan harus menjadi prioritas utama dalam setiap aktivitas operasional terminal. “Melihat kinerja yang semakin meningkat dari tahun ke tahun, kami menghimbau seluruh pekerja untuk terus mengubah behavior agar lebih mengutamakan safety dan peduli terhadap kondisi kerja. Kita bekerja tidak lain datang selamat dan pulang selamat,” ujar Guna.
Ia menambahkan, kecelakaan kerja tidak hanya menimbulkan kerugian moril dan materiil, tetapi juga dapat berdampak langsung terhadap terganggunya kegiatan operasional terminal dan rantai logistik di pelabuhan. Karena itu, perusahaan terus mendorong penguatan budaya safety agar menjadi kebiasaan dan kesadaran kolektif seluruh pihak yang bekerja di area terminal.
Dengan aktivitas operasional yang berlangsung 24 jam dan melibatkan alat berat serta mobilitas tinggi, IPC TPK menilai pendekatan Behavior Based Safety (BBS) menjadi langkah penting untuk membangun perilaku kerja yang lebih disiplin, waspada, dan peduli terhadap risiko kerja.
Hadir sebagai narasumber utama, Pakar Kesehatan Okupasi dr. Muhammad Ilyas, Sp. OK, yang menyoroti pentingnya perubahan perilaku dalam menekan angka kecelakaan kerja di lingkungan pelabuhan. Ia menjelaskan bahwa sebagian besar insiden kerja dipicu oleh perilaku tidak aman, rendahnya awareness terhadap risiko, hingga kondisi kelelahan kerja (fatigue) yang kerap tidak disadari pekerja.
Menurutnya, penerapan fatigue management, pola hidup sehat, serta peningkatan kesadaran keselamatan menjadi faktor penting untuk meminimalisir human error dalam aktivitas operasional terminal petikemas yang memiliki tingkat risiko tinggi.
Kegiatan ini dihadiri oleh Executive General Manager Pelindo Regional 2 Tanjung Priok Yandri Trisaputra, mitra perusahaan bongkar muat, dan jajaran manajemen IPC TPK. Kehadiran para stakeholder tersebut mencerminkan pentingnya kolaborasi dalam membangun budaya keselamatan yang lebih kuat dan berkelanjutan di lingkungan pelabuhan.
Melalui Safety Awareness 2026, IPC TPK menegaskan komitmennya untuk terus menggiatkan budaya keselamatan sebagai fondasi utama operasional perusahaan. Perusahaan meyakini bahwa terminal yang produktif hanya dapat tercipta apabila seluruh pekerja dapat menjalankan aktivitas secara aman, sehat, dan selamat.
“Harapan ke depannya, mari sama-sama kita lakukan perbaikan-perbaikan untuk terus mengutamakan safety baik pekerja lapangan maupun back office,” tutup Guna.
Press Release IPC TPK edisi 6 Mei 2026 (Kerjasama)
Ribuan Kontainer Kosong Masuk IPC TPK Panjang,
Topang Pergerakan Ekspor Sumatera
Topang Pergerakan Ekspor Sumatera
Bandar Lampung, 6 Mei 2026 – IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) Panjang menerima kedatangan kapal MV MSC Polonia III dengan muatan peti kemas kosong (empty container) terbesar sepanjang tahun 2026. Kehadiran kapal ini menjadi momentum penting dalam mendukung kelancaran arus logistik, khususnya untuk kebutuhan ekspor dan impor di wilayah Sumatera.
Dalam kegiatan bongkar muat, kapal ini mencatatkan total 2.318 box (2.470 TEUs). Aktivitas bongkar didominasi oleh peti kemas kosong sebanyak 1.772 box (1.787 TEUs), serta 124 box full (228 TEUs). Sementara itu, kegiatan muat tercatat sebanyak 422 box full (455 TEUs).
Masuknya sekitar 1.700 lebih empty container ini terjadi di tengah kondisi industri logistik yang saat ini menghadapi ketidakseimbangan antara permintaan dan ketersediaan kontainer. Dalam beberapa waktu terakhir, permintaan ekspor tercatat lebih tinggi dibandingkan dengan ketersediaan kontainer kosong, yang berdampak pada tertundanya pengiriman serta kenaikan biaya logistik.
Kedatangan kapal ini menjadi tambahan pasokan yang signifikan, sekaligus membantu mempercepat pengiriman ekspor yang sebelumnya tertahan (backlog), serta menjadi bentuk intervensi langsung terhadap ketidakseimbangan supply-demand kontainer.
“Kehadiran kontainer kosong dalam jumlah besar ini diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan pelaku usaha, khususnya dalam mendukung kelancaran aktivitas ekspor dari wilayah Sumatera,” ujar Anang Subagyono, Manager Area IPC TPK Panjang.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Provinsi Lampung, secara kinerja perdagangan, aktivitas ekspor di wilayah Sumatera, khususnya Provinsi Lampung, menunjukkan tren yang kuat. Berdasarkan data tahun 2026, nilai ekspor Lampung tercatat sekitar US$500 juta per bulan, dengan total US$992,45 juta pada periode Januari–Februari 2026. Hal ini mencerminkan tingginya demand logistik di wilayah Sumatera yang terus meningkat.
Dalam konteks ini, ketersediaan kontainer kosong menjadi faktor krusial. Kehadiran kapal dengan muatan empty container dalam jumlah besar tidak hanya menambah pasokan, tetapi juga berperan sebagai enabler ekspor, yang memastikan kelancaran distribusi barang ke pasar global.
Lebih lanjut, penempatan kontainer kosong dalam jumlah besar di IPC TPK Panjang juga menjadi indikasi meningkatnya permintaan pasar (market signal). Shipping line umumnya menempatkan kontainer di wilayah dengan potensi ekspor tinggi, sehingga hal ini mencerminkan optimisme terhadap aktivitas perdagangan di kawasan Sumatera.
IPC TPK Panjang juga semakin menunjukkan perannya sebagai alternative gateway logistik di Sumatera, khususnya melalui layanan pelayaran yang terhubung langsung (direct call) ke hub internasional seperti Singapura, sehingga memberikan efisiensi waktu dan biaya logistik bagi pelaku usaha.
“Kami melihat adanya peningkatan aktivitas logistik di wilayah Sumatera, yang tercermin dari kebutuhan kontainer serta arus barang yang terus tumbuh,” tambah Anang.
Seiring dengan dinamika tersebut, IPC TPK Panjang siap mendukung pelaku logistik, baik perusahaan pelayaran maupun pemilik barang, dengan menghadirkan layanan terminal yang kompeten, cepat, dan efisien. Kesiapan ini tercermin dari optimalisasi operasional bongkar muat yang terus dijaga, sehingga mampu mengakomodasi pertumbuhan arus peti kemas dan peningkatan trafik secara berkelanjutan.
Dengan dukungan fasilitas dan layanan yang andal, IPC TPK Panjang juga siap menghadapi dinamika industri logistik yang terus berkembang, sekaligus memastikan kelancaran arus barang di wilayah Sumatera tetap terjaga. Kedatangan kontainer kosong dalam jumlah besar ini diharapkan dapat mendukung stabilitas rantai pasok, menjaga kelancaran distribusi, serta meningkatkan daya saing ekspor Indonesia di pasar global.
Press Release IPC TPK edisi 8 Mei 2026 (Kerjasama)
IPC TPK Jambi Perkuat Ekspor Kayu Manis, Komoditas Unggulan Asal Jambi
Jambi, 8 Mei 2026 – IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) Area Jambi mendukung kelancaran ekspor kayu manis sebagai komoditas unggulan daerah melalui optimalisasi layanan di Terminal Petikemas Pelabuhan Talang Duku. Upaya ini sejalan dengan kerja sama strategis antara PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) Regional 2 Jambi dan Cassia Co-Op dalam mendorong ekspor kayu manis asal Kerinci ke pasar global.
Melalui kolaborasi ini, ekspor kayu manis menggunakan petikemas ditargetkan mencapai 1.500 ton sepanjang tahun 2026, dengan tujuan pasar Amerika, Eropa, dan Asia. Indonesia merupakan salah satu produsen utama kayu manis dunia dengan kontribusi sekitar 20% terhadap pasokan global, sementara wilayah Kerinci di Provinsi Jambi menjadi salah satu sentra utama yang menyumbang sebagian besar produksi nasional dan dikenal sebagai penghasil kayu manis berkualitas ekspor.
Manager Operasi IPC TPK Area Jambi, Wedhar Tani Aji, menyampaikan bahwa kesiapan operasional terminal menjadi faktor utama dalam menjaga kelancaran arus ekspor.
“Sebagai operator terminal, kami memastikan kesiapan layanan logistik agar tetap efisien dan terintegrasi sehingga distribusi dapat berlangsung lebih lancar dan tepat waktu. Hal ini menjadi kunci dalam menjaga daya saing komoditas unggulan daerah di pasar global” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa Jambi memiliki beragam potensi komoditas unggulan yang memiliki peluang besar untuk berkembang di pasar internasional seperti kopi, karet, pinang, dan lainnya. Kehadiran pelabuhan dan sistem logistik yang andal diharapkan dapat menjadi penghubung bagi produk-produk lokal agar semakin dikenal di pasar dunia.
“Pada prinsipnya, pelabuhan siap mendukung geliat ekspor komoditas asli Jambi. Tidak hanya kayu manis, masih banyak potensi daerah yang dapat dikembangkan bersama. Tentunya hal ini membutuhkan kolaborasi dan sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, petani, serta seluruh pemangku kepentingan agar potensi tersebut dapat dimaksimalkan,” tambahnya.
Kolaborasi ini tidak hanya memperlancar distribusi, tetapi juga memperluas akses pasar internasional bagi komoditas lokal serta meningkatkan nilai tambah bagi pelaku usaha dan petani di daerah. Dengan dukungan sistem logistik yang efisien, kayu manis Kerinci diharapkan mampu memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok rempah dunia.
Ke depan, IPC TPK Area Jambi akan terus meningkatkan kualitas layanan kepelabuhanan dan efisiensi operasional guna mendukung peran Pelabuhan Talang Duku sebagai gerbang ekspor komoditas unggulan Jambi ke pasar internasional.
Press Release IPC TPK edisi 12 Mei 2026 (Kerjasama)
IPC Terminal Petikemas Dorong Inklusi Ekonomi Perempuan Penyandang Disabilitas
Melalui Program TJSL di Kalimantan Barat
Pontianak, 12 Mei 2026 – IPC Terminal Petikemas kembali menunjukkan komitmennya terhadap pembangunan yang inklusif melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) berupa Pelatihan Keterampilan Perawatan Wajah dan Tubuh bagi Terapis Perempuan Penyandang Disabilitas di Kalimantan Barat. Program hasil kolaborasi dengan Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Kalimantan Barat dan Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Provinsi Kalimantan Barat ini menjadi langkah nyata dalam membuka akses keterampilan dan peluang ekonomi bagi perempuan penyandang disabilitas.
Selama tiga hari, 11–13 Mei 2026, sebanyak 20 perempuan penyandang disabilitas mengikuti pelatihan keterampilan facial dan massage yang dirancang tidak hanya untuk meningkatkan kemampuan teknis, tetapi juga membangun kepercayaan diri dan kemandirian ekonomi peserta. Selain praktik langsung bersama trainer profesional, peserta juga mendapatkan pembekalan pelayanan pelanggan hingga dasar kewirausahaan sebagai bekal memasuki dunia kerja maupun membangun usaha mandiri.
Corporate Secretary IPC Terminal Petikemas, Daniel Setiawan, menegaskan bahwa program TJSL perusahaan diarahkan untuk menciptakan dampak sosial yang berkelanjutan. “Bagi kami, TJSL bukan sekadar memberikan bantuan, tetapi membuka peluang dan menciptakan perubahan yang nyata. Melalui program ini, kami ingin perempuan penyandang disabilitas memiliki ruang untuk tumbuh, berkarya, dan mandiri secara ekonomi,” ujarnya.
Dukungan terhadap program ini juga disampaikan Kepala Bidang Pemberdayaan UKM Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Provinsi Kalimantan Barat, Permai Budi Susatyo. Menurutnya, pelatihan ini menjadi bagian penting dalam memperluas akses pemberdayaan ekonomi bagi kelompok rentan. “Kegiatan ini kami harapkan dapat meningkatkan kompetensi peserta agar semakin berdaya, mandiri, dan mampu memenuhi kebutuhan hidup pribadi maupun keluarga. Berdasarkan Data SIDT tahun 2026, terdapat 338.257 pelaku UMKM di Kalimantan Barat dan sebanyak 88.293 pelaku kewirausahaan. Artinya, peluang untuk bertumbuh di sektor usaha terbuka luas, termasuk bagi penyandang disabilitas,” katanya.
Bagi banyak perempuan penyandang disabilitas, tantangan terbesar kerap bukan terletak pada kemampuan, melainkan keterbatasan akses dan kesempatan. Karena itu, program ini dirancang sebagai ruang belajar dan ruang tumbuh yang mempertemukan perusahaan, komunitas disabilitas, pemerintah daerah, trainer profesional, hingga mitra usaha lokal untuk bersama-sama membuka peluang yang lebih luas bagi perempuan disabilitas.
Ketua HWDI Kalimantan Barat, Linda Fardini, menyampaikan apresiasi atas inisiatif yang dihadirkan IPC Terminal Petikemas. “Perempuan disabilitas juga harus memiliki kesempatan yang sama untuk mandiri dan berkembang. Kami berharap keterampilan yang diperoleh peserta dapat menjadi bekal nyata untuk berusaha dan meningkatkan kualitas hidup. Terima kasih kepada IPC Terminal Petikemas atas kepedulian dan dukungan yang diberikan bagi perempuan disabilitas di Kalimantan Barat,” ungkapnya.
Program ini menjadi bagian dari komitmen berkelanjutan IPC Terminal Petikemas dalam menghadirkan dampak sosial melalui pendekatan from skill to sustainability, yaitu proses pemberdayaan yang dimulai dari penguasaan keterampilan dasar, praktik langsung, hingga membuka akses terhadap peluang pengembangan usaha di masa mendatang.
Inisiatif tersebut juga sejalan dengan dukungan perusahaan terhadap Asta Cita ke-4 Pemerintah Republik Indonesia dalam penguatan pembangunan sumber daya manusia melalui pemberdayaan perempuan dan penyandang disabilitas. Selain itu, program ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Kesetaraan Gender (SDG 5), Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi (SDG 8), serta Berkurangnya Kesenjangan (SDG 10).
Melalui program ini, IPC Terminal Petikemas percaya bahwa inklusi tidak berhenti pada wacana, tetapi harus diwujudkan melalui akses, keterampilan, dan peluang nyata agar setiap individu memiliki kesempatan yang setara untuk berkembang dan mandiri.
Press Release IPC TPK edisi 13 Mei 2026 (Kerjasama)
Kunjungan Mahasiswa UI ke IPC TPK,
Sinkronisasi Teori Akademik dan Realita Industri Pelabuhan
Sinkronisasi Teori Akademik dan Realita Industri Pelabuhan
Jakarta, 13 Mei 2026 – Di balik aktivitas bongkar muat, pelabuhan merupakan simpul utama rantai pasok nasional sekaligus pusat konektivitas ekonomi yang membuka ruang besar bagi berbagai disiplin ilmu dan talenta masa depan. Berangkat dari semangat tersebut, IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) menerima kunjungan industri dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia sebagai bagian dari Program Jejak Pelabuhan pada Jumat (8/5) lalu.
Program Jejak Pelabuhan merupakan inisiatif IPC TPK untuk membuka akses pembelajaran industri sekaligus menjembatani teori akademik dengan realita operasional di lapangan. Melalui program ini, mahasiswa diperkenalkan secara langsung pada ekosistem kepelabuhanan modern yang kini berkembang jauh melampaui aktivitas operasional konvensional.
Selama kunjungan, peserta berkesempatan melihat langsung alur kerja logistik modern dengan mengunjungi Integrated Planning & Control Room serta Terminal Operasi 3 di Pelabuhan Tanjung Priok. Tidak hanya menyaksikan proses bongkar muat peti kemas, mahasiswa juga memperoleh pemahaman mengenai bagaimana pelabuhan menjadi simpul penting rantai pasok global, pusat pengambilan keputusan bisnis, hingga bagian dari transformasi digital dan sustainability dalam industri logistik nasional.
Pada kunjungan ini, mahasiswa turut menggali lebih dalam mengenai peran digitalisasi dalam operasional pelabuhan modern, mulai dari pemanfaatan sistem terintegrasi untuk mendukung efisiensi layanan hingga upaya mitigasi risiko terhadap potensi gangguan operasional. Selain itu, mahasiswa memperoleh gambaran mengenai pengelolaan customer relation, struktur organisasi di lingkungan pelabuhan, serta pentingnya koordinasi lintas sektor dan fungsi dalam memastikan kelancaran proses bongkar muat sebagai bagian penting dari rantai pasok nasional.
Corporate Secretary IPC TPK, Daniel Setiawan, menyampaikan bahwa kunjungan ini menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam membuka wawasan generasi muda terhadap industri kepelabuhanan dan logistik yang terus berkembang.
“Dunia kepelabuhanan hari ini bukan lagi industri yang eksklusif atau hanya dipahami kalangan tertentu. Industri ini sangat terbuka dan membutuhkan banyak perspektif keilmuan, mulai dari ekonomi, bisnis, teknologi, data, sustainability, hingga komunikasi. Karena itu, kami ingin membuka wawasan bahwa pelabuhan adalah industri masa depan yang relevan bagi generasi muda,” ujar Daniel.
Berbeda dengan kunjungan akademik pada umumnya, Program Jejak Pelabuhan dirancang untuk memberikan pengalaman industri yang lebih kontekstual dan strategis. Mahasiswa diajak memahami bagaimana efisiensi logistik memengaruhi biaya distribusi nasional, bagaimana arus perdagangan internasional bergerak melalui pelabuhan, hingga bagaimana terminal petikemas bertransformasi melalui digitalisasi dan penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).
Sebagai operator terminal petikemas di bawah naungan Pelindo Group, IPC TPK menilai bahwa pengenalan industri sejak dini menjadi penting untuk memperkecil kesenjangan antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri. Keterbukaan akses terhadap dunia kepelabuhanan juga diharapkan dapat mengubah perspektif generasi muda bahwa sektor ini merupakan bidang yang dinamis, modern, dan memiliki prospek besar di masa depan.
“Melalui Program Jejak Pelabuhan, kami ingin menghadirkan pengalaman belajar yang lebih dekat dengan realita industri. Mahasiswa tidak hanya melihat proses operasional, tetapi juga memahami bagaimana pelabuhan bekerja sebagai penghubung rantai pasok dan penggerak aktivitas ekonomi. Harapannya, mahasiswa dapat melihat langsung bahwa sektor ini terus berkembang dan membutuhkan banyak talenta dengan beragam latar belakang keilmuan,” tutup Daniel Setiawan.
Press Release IPC TPK edisi 16 Mei 2026 (Kerjasama)
IPC TPK Panjang Perbesar Kapasitas Bongkar Muat
dengan QCC Post Panamax
Bandar Lampung, 16 Mei 2026 – Penguatan infrastruktur bongkar muat terus dilakukan IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) Area Panjang guna meningkatkan kapasitas layanan dan mendukung kelancaran arus logistik di wilayah Sumatera Bagian Selatan. Salah satu langkah strategis tersebut diwujudkan melalui penambahan satu unit Quay Container Crane (QCC) berjenis Post Panamax yang tiba di Pelabuhan Panjang menggunakan kapal MV Zheng Hua 37 asal China.
Kedatangan crane baru ini merupakan bagian dari program investasi Pelindo Terminal Petikemas untuk mendukung peningkatan kapasitas dan produktivitas bongkar muat di terminal. Dengan tambahan alat tersebut, IPC TPK Area Panjang kini memiliki total empat unit QCC yang siap memperkuat pelayanan kapal dan arus petikemas di terminal. Langkah strategis ini diambil guna merespons lonjakan volume arus petikemas yang tumbuh signifikan sebesar 24% pada tahun lalu.
Manager IPC TPK Area Panjang, Anang Subagyono, menegaskan bahwa penambahan QCC merupakan bagian dari upaya perusahaan meningkatkan daya saing pelabuhan sekaligus memperkuat rantai logistik nasional di wilayah Lampung dan sekitarnya.
"Penambahan QCC Post Panamax ini merupakan langkah strategis untuk meningkatkan kapasitas layanan dan produktivitas terminal. Kami ingin memastikan IPC TPK Panjang mampu menjawab kebutuhan pengguna jasa seiring meningkatnya aktivitas logistik dan arus petikemas di wilayah Sumatera Bagian Selatan," ujar Anang saat meninjau kedatangan alat tersebut.
Peningkatan kapasitas tersebut sejalan dengan pertumbuhan arus petikemas IPC TPK Panjang yang terus menunjukkan tren positif. Sepanjang tahun 2025, terminal mencatat arus petikemas sebesar 128.675 TEUs atau tumbuh sekitar 24% dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 103.700 TEUs.
Crane raksasa tersebut tiba di Pelabuhan Panjang dengan diangkut oleh kapal MV Zheng Hua 37 asal China pada Kamis (14/5). Dengan tambahan armada ini, IPC TPK Area Panjang kini memiliki total 4 unit QCC yang siap mengoptimalkan layanan bongkar muat di gerbang logistik utama wilayah Sumatera Bagian Selatan tersebut.
Secara teknis, QCC Post Panamax ini memiliki keunggulan outreach sepanjang 45 meter dengan jangkauan 16 hingga 17 baris petikemas. Spesifikasi ini memungkinkan pelabuhan untuk melayani kapal-kapal dengan kapasitas yang lebih besar secara lebih efisien.
Pasca sandarnya MV Zheng Hua 37, tim teknis akan melakukan proses rolling-off atau penurunan crane menuju dermaga terminal. Sebelum dioperasikan secara penuh, alat ini akan melalui serangkaian tahapan mulai dari instalasi sistem, uji beban (commissioning test), hingga integrasi dengan sistem operasional terminal (TOS).
Anang menambahkan bahwa investasi infrastruktur ini diproyeksikan menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi regional. "Kedatangan unit QCC Post Panamax ini menandai babak baru modernisasi di Pelabuhan Panjang. Kami ingin memastikan bahwa infrastruktur yang kami miliki tidak hanya mampu menopang tren peningkatan operasional saat ini, tetapi juga siap menjadi katalisator utama bagi pertumbuhan ekonomi dan kelancaran arus logistik nasional di wilayah Lampung dan sekitarnya," tutup Anang
Press Release IPC TPK edisi 19 Mei 2026 (Kerjasama)
IPC TPK Catat Pertumbuhan Positif pada Awal Triwulan II 2026
Jakarta, 19 Mei 2026 – IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) membuka Triwulan II/2026 dengan mencatat peningkatan kinerja operasional. Realisasi throughput hingga April 2026 sukses mencapai 1.159.575 TEUs, meningkat 6,7% dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya sebesar 1.086.766 TEUs.
Peningkatan throughput IPC TPK sejalan dengan tren pertumbuhan perdagangan nasional. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan nilai impor Indonesia periode Januari–Maret 2026 tumbuh 10,05% secara tahunan, sementara neraca perdagangan nasional masih mencatat surplus sebesar US$5,55 miliar.
Di sisi lain, di tengah dinamika rantai pasok global yang masih menghadapi tantangan, termasuk meningkatnya biaya logistik serta ketidakpastian jalur pelayaran internasional akibat eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah, kondisi tersebut turut memengaruhi aktivitas pengiriman laut global dan mendorong penyesuaian pada sejumlah rute maritim internasional. Meski demikian, IPC TPK tetap menjaga keandalan layanan dan efisiensi operasional guna memastikan kelancaran arus barang tetap terjaga.
Senior Manager Sekretariat Perusahaan IPC TPK, Daniel Setiawan, mengatakan perusahaan terus menjaga optimalisasi layanan dan efisiensi operasional guna mendukung kelancaran distribusi logistik nasional.
“Optimalisasi dan efisiensi layanan terus kami pertahankan guna mendukung kelancaran arus barang serta menjaga daya saing logistik nasional,” ujar Daniel.
Secara year-on-year, peningkatan kinerja pada bulan April 2026 sangat signifikan, yakni 26,78% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pada bulan April 2026, kinerja operasi tercatat sebesar 308.810 TEUs, meningkat pesat dibandingkan dengan April 2025 yang mencapai 243.579 TEUs.
Peningkatan tertinggi terjadi di wilayah Tanjung Priok, terutama di IPC TPK Area Tanjung Priok 2 yang tumbuh 36,7% serta Area Tanjung Priok 1 sebesar 24,3%. Pertumbuhan tersebut didorong oleh tambahan layanan ad hoc dan peningkatan volume dari sejumlah shipping line.
Sementara itu, IPC TPK Area Palembang turut mencatat pertumbuhan sebesar 18,7% seiring meningkatnya aktivitas ekspor dan impor sejumlah komoditas seperti rubber, wood product, coconut, hingga metal box.
Di tengah pertumbuhan arus petikemas, IPC TPK juga terus memperkuat langkah strategis di berbagai wilayah operasional. Pada April 2026, IPC TPK Teluk Bayur bersama PTP Nonpetikemas Cabang Teluk Bayur menjalin sinergi pemanfaatan dermaga dan peralatan bongkar muat guna mendukung kelancaran layanan logistik di Sumatera Barat.
Sementara itu, IPC TPK Area Jambi turut mendukung kelancaran ekspor kayu manis melalui optimalisasi layanan di Terminal Petikemas Pelabuhan Talang Duku guna memperluas akses pasar internasional bagi komoditas unggulan daerah.
Menurut Daniel, perusahaan akan terus fokus menjaga stabilitas operasional dan kesiapan infrastruktur guna mengantisipasi dinamika industri logistik ke depan.
“Kami terus memperkuat kesiapan infrastruktur dan standardisasi layanan di seluruh terminal agar tetap mampu menjaga kelancaran arus barang di tengah dinamika logistik global yang terus berkembang,” tutup Daniel.
Press Release IPC TPK edisi 20 Mei 2026 (Kerjasama)
IPC IPC TPK Panjang Tingkatkan Efisiensi Ekspor
Melalui Sinergi Layanan Depo Petikemas
Bandar Lampung, 20 Mei 2026 – IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) memperkuat layanan logistik di wilayah Lampung melalui pengoperasian depo petikemas di kawasan Pelabuhan Panjang, Bandar Lampung, bersama PT Citra Prima Container sebagai mitra strategis. Langkah ini menjadi bagian dari upaya IPC TPK dalam meningkatkan kualitas layanan pendukung terminal petikemas sekaligus memperlancar arus barang ekspor dan impor di wilayah tersebut.
Depo petikemas seluas 10.000 m2 merupakan salah satu fasilitas pendukung terminal yang berperan penting dalam memudahkan pengguna jasa melakukan pengiriman barang menggunakan petikemas. Kehadiran depo yang terintegrasi dengan terminal petikemas dalam satu kawasan diharapkan dapat mempercepat proses logistik, mulai dari penyiapan petikemas kosong (empty container), hingga pengiriman barang ke kapal.
Manager IPC TPK Area Panjang, Anang Subagyono, mengatakan kolaborasi layanan depo petikemas ini merupakan langkah strategis dalam memperkuat ekosistem logistik di Pelabuhan Panjang. Melalui sinergi dengan PT Citra Prima Container sebagai pengelola depo, IPC TPK mendukung ketersediaan petikemas kosong (empty container) bagi kebutuhan ekspor yang terus meningkat. Integrasi layanan antara terminal petikemas dan depo dalam satu kawasan diharapkan dapat meningkatkan efisiensi distribusi barang serta memberikan kemudahan bagi pengguna jasa.
Melalui sinergi layanan antara terminal petikemas yang dikelola IPC TPK dan depo petikemas yang dioperasikan oleh mitra, kami berupaya menghadirkan ekosistem logistik yang lebih terintegrasi di Pelabuhan Panjang. Kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya bersama dalam mendukung kelancaran distribusi petikemas kosong untuk kebutuhan ekspor, sehingga pengguna jasa dapat memperoleh layanan logistik yang lebih efisien dan tepat waktu,” ujar Anang Subagyono, Manager IPC TPK Area Panjang.
Seiring tingginya aktivitas perdagangan melalui Pelabuhan Panjang, kebutuhan terhadap layanan logistik yang terintegrasi juga terus meningkat. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung mencatat nilai ekspor Lampung pada Januari–Maret 2026 mencapai US$1,38 miliar. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya dukungan fasilitas logistik, termasuk depo petikemas yang terintegrasi dengan terminal, guna mempercepat arus barang dan meningkatkan efisiensi layanan bagi pengguna jasa.
Kehadiran depo petikemas ini diharapkan menjadi solusi konkret di tengah tren kenaikan komoditas ekspor di wilayah Panjang dan sekitarnya. Dengan proses distribusi empty container yang lebih memangkas waktu operasional, para eksportir kini dapat mengoptimalkan kapasitas pengiriman mereka. Kemudahan mengakses petikemas kosong yang siap digunakan diyakini akan menjadi stimulus kuat dalam mendorong peningkatan volume ekspor komoditas unggulan daerah ke pasar global.
Langkah strategis ini juga menjadi wujud nyata dari komitmen bersama kedua perusahaan dalam mendukung kelancaran logistik nasional. Integrasi layanan antara terminal dan depo petikemas yang efisien akan meminimalkan hambatan operasional di lapangan. Pada akhirnya, penguatan rantai pasok (supply chain) ini tidak hanya meningkatkan daya saing Pelabuhan Panjang, tetapi juga membuka peluang pertumbuhan ekonomi yang jauh lebih besar bagi wilayah sekitarnya.
“Kolaborasi layanan depo petikemas di kawasan Pelabuhan Panjang ini merupakan bentuk sinergi antar pelaku logistik untuk memperkuat konektivitas dan memberikan kemudahan bagi pengguna jasa. Dengan integrasi layanan antara terminal petikemas dan depo, diharapkan proses logistik menjadi lebih efisien serta mampu mendukung upaya penurunan biaya logistik,” tutup Anang.
Press Release IPC TPK edisi 28 Mei 2026 (Kerjasama)
IPC TPK Tebar Kepedulian Iduladha ke Seluruh Wilayah Operasional
Jakarta, 28 Mei 2026 – Hari Raya Iduladha 1447 H menjadi momentum bagi IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) untuk memperluas manfaat sosial bagi masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan. Tahun ini, IPC TPK menyalurkan 26 hewan kurban kepada masyarakat di berbagai daerah operasional sebagai wujud kepedulian sosial dan penguatan hubungan harmonis antara pelabuhan dan lingkungan sekitarnya.
Penyaluran hewan kurban dilakukan di sejumlah wilayah operasional IPC TPK, mulai dari Jakarta, Pontianak, Palembang, Jambi, Padang, dan Lampung. Bantuan tersebut diberikan kepada masyarakat di ring 1 pelabuhan, Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM), stakeholder pelabuhan, yayasan sosial, hingga kelompok masyarakat yang membutuhkan.
Bagi IPC TPK, Iduladha bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi juga ruang untuk menghadirkan kebermanfaatan yang lebih luas di tengah masyarakat. Kehadiran perusahaan di kawasan pelabuhan diharapkan tidak hanya mendorong aktivitas logistik dan ekonomi, tetapi juga mampu memberikan dampak sosial yang nyata dan berkelanjutan.
Program ini menjadi bagian dari implementasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG), khususnya pada aspek sosial melalui penguatan hubungan yang inklusif dan berkelanjutan dengan masyarakat sekitar pelabuhan. Selain itu, program ini turut mencerminkan penerapan nilai Diversity, Equity, and Inclusion (DEI) dengan memastikan distribusi manfaat dapat dirasakan secara merata oleh berbagai lapisan masyarakat di wilayah operasional perusahaan.
Senior Manager Sekretariat Perusahaan IPC Terminal Petikemas, Daniel Setiawan, mengatakan bahwa semangat Iduladha menjadi pengingat penting mengenai arti berbagi dan kepedulian sosial, terutama bagi masyarakat yang hidup berdampingan dengan aktivitas pelabuhan. “Melalui program penyaluran hewan kurban ini, IPC TPK ingin menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus mempererat hubungan yang harmonis antara perusahaan dan lingkungan sekitar. Kami percaya bahwa pelabuhan bukan hanya ruang aktivitas logistik, tetapi juga bagian dari ekosistem sosial yang harus tumbuh bersama masyarakat,” ujarnya.
Lebih lanjut, program ini juga sejalan dengan dukungan IPC TPK terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2 – Zero Hunger (Tanpa Kelaparan) melalui distribusi pangan bergizi kepada masyarakat dan SDG 10 – Reduced Inequalities (Berkurangnya Kesenjangan) melalui pemerataan manfaat sosial di sekitar wilayah operasional perusahaan.
Upaya tersebut dinilai relevan dengan tantangan ketahanan pangan yang masih menjadi perhatian, khususnya di wilayah Jakarta Utara. Dalam dokumen Rencana Aksi Daerah Pangan dan Gizi DKI Jakarta 2024–2026, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menargetkan angka Prevalence of Undernourishment (PoU) atau prevalensi ketidakcukupan konsumsi pangan mencapai sekitar 2,5% pada tahun 2026. Sementara itu, Pemerintah Kota Jakarta Utara juga terus menjalankan berbagai program percepatan penurunan stunting dan penguatan ketahanan pangan masyarakat.
Melalui semangat Iduladha, IPC TPK berharap nilai kebersamaan, solidaritas, dan kepedulian sosial dapat terus tumbuh serta memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan.
oOo












